Guru Kimia
kami bernama Ibu Padma. Orangnya bertubuh kecil dan rapuh. Bingkai kacamatanya
pun tidak jauh dari perawakannya yang tipis. Rambut beliau mengembang keriting
dengan beberapa helai rambut putih mengintip dari sela-sela.
Ibu Padma orangnya sangat halus, suaranya
bagaikan angin yang menerpa dedaunan
Ibu Padma orangnya sangat halus, kehadiran
beliau tidak terasa akibat langkah kakinya yang pelan dan gemulai
Ibu Padma orangnya sangat halus, resonansi
suara beliau hanya bisa ditangkap oleh lumba-lumba
Suatu ketika kelas kami mengadakan praktek
pelajaran Molymod. Molymod merupakan plastic berbentuk bulatan-bulatan yang
dihubungkan oleh batangan. Guna praktek ini sebenarnya untuk menjelaskan mengenai
partikel dalam dunia kimia yang entah akan dipakai oleh siapa dari kelas ini.
Tetapi demi daftar absensi dan juga nilai kenaikan kelas, murid-murid hanya
duduk dengan baik sambil mencoba meraba-raba mainan yang diibaratkan seperti lego.
Dalam praktek kimia itu, terdapat juga alkohol untuk proses membakar, dan
beberapa alat lainnya
Satu
persatu murid berguguran berdasarkan hitungan menit sementara Ibu Padma sibuk
berbisik-bisik dengan dirinya sendiri dengan harapan suara tersebut dapat
tersampaikan dengan baik di kuping dan di hati murid-murid kesayangannya.
Steven merupakan salah satu murid
yang ajaib di kelas dan tidak bisa diam. Perawakannya tinggi besar dan
menggunakan kacamata bulan seperti Dumbledore. Murid-murid curiga Ibu Steven
memakan piring kwetiauw lonjong karena wajah Steven yang disproporsional. Praktikum
Kimia ini dilakukan berdua-berdua dengan teman semeja. Steven yang hiperaktif
karena ada darah piring kwetiauw yang panas, sibuk berbincang dengan Krisna,
murid berisik yang duduk di belakangnya. Partner Steven yang pasrah pun hanya
dapat mengelus dada dan mempelajari praktikum ini sebaik-baiknya
“Jadi begitu Kris.. Tolol ya”
Ujar Steven sambil tertawa bagaikan Spongebob
“Iya tolol banget hahaha! Eh.. Lo
cium ada bau apa gak?” Krisna mengeryitkan matanya
“Hah bau apa? Gua gak kentut kok”
2 manusia ini pun sibuk
mengendus-ngendus bau yang datang sampai Krisna memecahkan keheningan sesaat
mereka
“STEV!!! KEBAKAR!!”
“Hah Kebakaran? Di mana Di mana?”
“TANGAN LO KEBAKAR TOLOL!!!”
“ANJIRRRR!!!!!!”
Steven yang shock dan panik hanya
mampu melambai-lambaikan tangannya ke udara, seakan meminta pertolongan dari
murid-murid madesu di sekitarnya. Sayangnya semua murid hanya bisa melihat
adegan sambil terpukau
“Akhirnya gue bisa lihat adegan
kayak di film Jackie Chan di sini” merupakan reaksi yang tidak halal
dibicarakan sehingga murid-murid hanya bisa menutup mulut dan beropini dalam
hati
“IBU!!! Steven Kebakar bu!!!” Krisna
sebagai teman yang bertanggung jawab pun berteriak meminta tolong ke Ibu Padma
Satu kelas tertuju pada kobaran
api biru di tangan Steven. Steven menggeliat bagaikan cacing kepanasan di
taman. Prihatin merupakan kata yang tepat terhadap teman yang tolol. Ibu Padma
datang tergopoh-gopoh dan berbisik sambil membenarkan kacamatanya dengan panik.
“Mana yang kebakar mana?”
Krisna menunjuk Steven yang
disambut teriakan pelan dari Ibu Padma
“Selamatkan molymodnya!!!”
Suasana hening sejenak
Ibu Padma orangnya idealis, uang
dan alat-alat kimia mahal tidak berarti baginya
Ibu Padma orangnya idealis, nyawa
murid mungkin hanya merupakan sebuah partikel kimia yang dapat disambung-sambungkan
bagaikan lego molymod
Ibu Padma orangnya idealis, data
penelitian merupakan yang terpenting pada akhirnya